Sabtu, 22 Januari 2022

Home

Selamat Datang Di Blog'nya anak-anak IKAMADA-IPA MAN 2 MTP
jangan lupa isi buku tamu dulu sebelum anda menjelajahi blog berikut.
Ada beberapa fitur yang kami tampilkan.
semoga semuanya bermanfaat..
amien

Kamis, 12 Januari 2012

Jenis-jenis Berita di Dunia Jurnalistik

Media adalah salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk berdakwah melalui tulisan, sebagai salah satu contohnya adalah situs PKS-Jaksel ini. Selain oleh Tim Redaksi, situs ini juga terbuka menerima tulisan yang mendukung kepentingan dakwah.
Oleh karena itu, dalam rangka memberdayakan umat Islam di bidang jurnalistik, untuk meningkatkan kontribusinya dalam berdakwah melalui tulisan, berikut diulas sekilas mengenai jenis-jenis berita.
Jenis-jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik antara lain:
1. Straight News: berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depan surat kabar berisi berita jenis ini.
Jenis berita Straight News dipilih lagi menjadi dua macam:
* Hard News: yakni berita yang memiliki nilai lebih dari segi aktualitas dan kepentingan atau amat penting segera diketahui pembaca. Berisi informasi peristiwa khusus (special event) yang terjadi secara tiba-tiba.
Contohnya: 1998-2007 Bersama PKS Melayani Bangsa

* Soft News, nilai beritanya di bawah Hard News dan lebih merupakan berita pendukung.
Contohnya:  Posko Banjir PKS Petogokan, Dua Kali Tenggelam, Empat Kali Pindah Tempat
2. Depth News: berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.

3. Investigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.
4. Interpretative News: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau penelitian penulisnya/reporter.
Contohnya:  KH. Ali, Pimpinan Madina Al Ikhlas: "Masih Adakah PKS di Hati Warga Jakarta?"
5. Opinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan, sarjana, ahli, atau pejabat, mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.
Contohnya:  PKS Protes Besaran Kenaikan BBM

Semoga uraian yang singkat ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan wawasan para PKS-Jaksel-ers dan semakin memotivasi untuk menggiatkan dakwah di bidang jurnalistik. Tetap Semangat! (dian)

Sumber: http://www.pks-jaksel.or.id/Article1156.html

Kamis, 22 Desember 2011

KLASIFIKASI PER-ABAD 70 CENDEKIAWAN MUSLIM


Selama ini kita lebih banyak mengenal ilmuwan-ilmuwan barat atau ilmuwan muslim tingkat atas seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusy. Ternyata banyak cendekiawan muslim yang belum kita tahu. Meskipun levelnya setingkat dibawah ilmuwan, namun karya-karyanya patut menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita. Berikut daftar cendekiawan muslim teladan beserta klasifikasi berdasarkan abad.
Seputar Abad ke-8 :
1.      Al-Jahiz : Biolog, Teolog dan Poligraf  “posmo” pengeksplorasi ilmu-ilmu “baru”
2.     Hajjaz bin Yusuf : Kampiun geometrid an penerjemah pertama “Elements” karya Euclides
3.     Ibnu al-Khasib : Astrolog penyusun ikhtisar sebuah ensiklopedi astronomi
4.     Thareq bin Ziyad : Arsitek utama pemerdekaan negeri Andalusia
Seputar Abad ke-9
5.     Abu Ma’shar al-Bakhi : Astronom- Astrolog dan saintis pertama yang menyanggah Aristoteles
6.     Ahmad bin Tulun : “Ulil Albab” produktif dan pendiri kemaharajaan Tulun
7.     Al-Bakhi : “Ayatullah” geografi, pendiri institusi geografi kontemporer
8.     Al-Dinawari : Intelektual “plus”, yang menguasai ilmu-ilmu botani, astronomi dan matematika
9.     Ibnu Fakih Hamdani : Karya geografis historisnya membuat De Goeje dan A. Miquel terlongo-longo
10. Ibnu Khurradadhbih : Gelegak birahi darah mudanya dilampiaskan untuk menggali ilmu kebumian, matematika, fisika hingga ke inti-intinya
11.  Ibnu Qutaybah : polymath provokatif, menguasai meteorology dan astronomi
12. Ishak bin Hunayn : “Suhu”-nya penerjemah ilmu-ilmu eksak, sekaligus dokter pribadi para khalifa dan petinggi istana
13. Ishak bin Sulaiman al-Israili : Tabib populis yang berpendar namanya lewat karya-karya terjemahan
14. Kudama’ : Filolog, geographer dan administrator handal
Seputar Abad ke-10
15. Abdul Rahman Sufi : Ahli ilmu perbintangan, penulis buku astronomi berilustrasi paling tua
16. Al-Istakhri : Ahli ilmu perbintangan, penulis buku astronomi berilustrasi paling tua
17. Ali bin Abbas : “ Dokter bedah dengan karya legendaries “Liber Regalis”. Reputasinya sejajar Ibnu Sina dan Ar-Razi
18. Ibnu Hawkal : Ilmuwan idealis diakui otoritasnya dalam ilmu kebumian
19. Ibnu Ridwan : Tabib spesialis kelas wahid dan “singa” polemic
20. Ibnu Samajun : Ahli farmasi, penulis kitab-kitab medis dan penerjemah karya-karya Dioscorides
21. Ibnu Sarabiyun : Geografer berkaliber jagad setaraf al-Khwarizmi
22. Ibnu Umayl : karya-karya alkemis dan arkeolog klasiknya yang kental dan interprestasi-interprestasi mistis dan psiko-analitis
23. Ibnu Wahshiyya : ahli-kimia, toksikologi dan abjad-abjad kuno. Pengarang buku pertanian berbahasa Arab paling tua
24. Kushiyar bin Laban : mahaguru kalkulus pemercik revolusi komputasi
25. Muqaddasi : Ilmuwan “Avant Garde”, peletak dasar-dasar beru geografi
Seputar Abad 11
26. Abu Barakat al-Biladi : Tabib spesialis, pengeritik sengit Ibnu Sina
27. Abu Mansur Bagdadi : Raja Aritmatika dan Matematika Faraid
28. Al-Karaji : Matematikus garda depan yang menulis tentang teori pencabutan akar dan kalkulus mental
29. Al-Khuyandi : Teori matematikanya “mengilhami” teorema fermat yang mengguncang dunia itu
Seputar Abad ke-12
30. Al-Ghafiki : “Pendekar” paranormal supernatural sekaligus oftamolog
31. Al-Jurjani : Dokter-filosof, penyusun ensiklopedi kedokteran pertama
32. Badi Asturlabi : Intelektual pasifis, ahli rekayasa dan konstruksi astrolabe  
33. Ibnu al-Awwan : Agronomis yang dikagumi Ibnu Khaldun
34. Ibnu Bassal : Ahli agronom dan botani dari negeri matador
35. Ibnu Tumlus : Dokter dan kader terpintar Ibnu Rusyd
36. Sultan Saladin : Ahli rekayasa dan Guru Besar ilmu teknik perang pembebasan
Seputar Abad ke-13
37. Al-Farisi : Santri terbaik Nashiruddin Tusi, pengarang karya-karya optic paling impresif
38. Al-Halabi : Teoritisi dan praktisi kedokteran mata dengan diagnose-diagnosa jitu
39. Hamdalla Mustawfi : Geographer berwawasan progresif. Karya kosmografi dan historigrafinya dinilai komprehensif dan subtantif
40. Ibnu Daniyal : Oftalmolog yang mensyiarkan ide-ide inovatif dan refleksi sosialnya dalam wujud komedi dan sandiwara.
41. Ibnu Luyun : Hobbinya sya’ir dan mistik keahlian kedokteran dan pertanian.
42. Ibnu Mujawir : Reputasi kecendikiawan  “meledak”lewat karya fenomenalnya “Tarikh al-Mustamsir”
43. Ibnu Shaddad : pengungsi yang ahli sejarah dan geografi
44. Nasiruddin Tusi : “Bintang”nya ilmu perbintangan dan pemrakarsa utama pembangunan obsevatorium I di duniamuslim
45. Qutb al-Din Shirazi : “top heavy intellectual” dan rajanya ilmu-ilmu pasti
Seputar Abad ke-14
46. Al-Jaghmini : “Resi” astronomi dan “Begawan” kedokteran
47. Al-Khalili : “Empu” astronomi-matematis yang teknik komputasi arah kiblatnya nyaris sempurna
48. Ibnu al-Samh :  Cendekiawan multi-disipliner pengarang kitab-kitab geometrid an astronomi
49. Ibnu al-Shatir : Tukang azan yang melangit namanya sebagai astronomi kandang. Teorinya identik dengan teori Coppernicus
50. Ibnu Batuta : Geografer-Sejarah yang melegenda sebagai “The King of King”nya pereli historis sejati
51. Ibnu Hudhayl  : namanya memeteor sebagai pakar matematika kemiliteran dan penggelut ilmu kehewanan
Seputar Abad ke-15
52. Al-Kalasadi : “Dewa” matematika , pencipta notasi-notasi pecahan modern
53. Al-Khasi : Matematikawan kawakan dan maestro astronomi pertama yang memperkenalkan pecahan desimal
54. Ibnu Inaba : Matematikawan “top class” dan ahli genealogi
55. Mun’im Himyari : pengarang kamus geografi Arab terpenting dari negeri Maghrib
56. Timur Leng : Jenderal dengan wawasan intelektual elaborative. Warisan-warisan kulturalnya melandasi kebudayaan teknologis masa kini.
57. Ulugh Beg : Astronom ulung dan matematikus tenar ini pernah menjadi Kaisar
Seputar Abad ke-16
58. Daud al-Antaki : Dokter buta yang menyukai petualangan ilmiyah
59. Muh. Ashik : Ahli kosmografi, penyusun compendium geografi tradisional
60. Sinan : “Master”nya kaum Arsitek. Organism arsitekturalnya tumpah ke mesjid dan ratusan bangunan-bangunan dahsyat
Seputar Abad ke- 17
61. Hajji Khalifa : kosmografer, geographer dan bibliographer dengan magnum opus berjudul “view of the worl”
62. Hussain Efendi : penganut Tarekat Naqshabandyah dan pegawai negeri dengan “1000 kecakapan”
63. Kalim Siddiqi : “Empu” arsitektur dan punggawa tarekat yang disegani
64. Rahman al-Fasi : poligraf serba bisa, mewariskan ratusan karya astronomi dan kedokteran
65. Ustadz Ahmad : Da’I yang merancang bangun salah satu kejaiban dunia : Taj Mahal
Seputar Abad ke-18
66. Awrangzeb : Teknokrat pemberangus kleptokrat dan “megabintang” strategi perang
67. Bahjat Mustafa Efendi : Pionir utama kedokteran modern yang ahli hokum dan teologi
Seputar Abad ke-19
68. Khoja Ishaq Efendi : Insinyur dan instruktur matematika. Pelopor publikasi ilmu-ilmu “Barat”  di negeri-negeri “Timur”
69. Qayyun Nasiri : menguasai aritmetika dan beberapa bahasa, Pembaharu-modernis dari negeri “Beruang Merah”
Seputar Abad ke-20
70. Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie : Kaisar Iptek dan teknolog foturistik dengan prestasi-prestasi prestisius.
Semoga nama kita suatu saat juga masuk dalam daftar cendekiawan muslim. Saya selaku penulis mohon maaf karena tidak bisa memberi informasi yang lengkap mengenai biografi nama-nama diatas mengingat kuantitasnya yang lumayan banyak. Bagi yang ingin mengenal tokoh-tokoh tersebut, bisa disearching langsung di internet dengan mengetikkan namanya. Juga mohon maaf karena tidak bisa membubuhkan  catatan kaki mengenai kata-kata asing yang ada dalam tulisan tersebut diatas. Semoga membawa manfaat dan ilmu untuk pembaca. Amiiiiin
Sumber : Cendekiawan Muslim Karya M. Natsir Arsyad

Kamis, 15 September 2011

Musyawarah Besar II IKAMADA


Jumat, 09 September 2011

Laporan Praktikum Kimia - Percobaan 6


PERCOBAAN VI
PEMBUATAN DAN PEMURNIAN KALIUM SULFIT
I.         TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan praktikum ini adalah untuk dapat memahami cara sintesis sederhana dari suatu senyawa kimia dan metode pemisahan dan pemurnian senyawa hasil sintesis secara rekristalisasi.

II.      TINJAUAN PUSTAKA
Pada umumnya di alam terdapat banyak campuran, maka kita perlu mempelajari cara-cara pemisahannya untuk mendapatkan zat yang dihasilkan tertentu yang murni.  Suatu campuran dapat dipisahkan dengan cara filtrasi, distilasi, kristalisasi, ekstrasi, absorbsi, dan kromatografi (Brady, 1999).
Untuk memperoleh zat murni kita harus memisahkan dari campurannya, contohnya untuk mendapatkan air suling (aquades) kita harus menyulingnya dari air sumur atau sungai. Untuk memperoleh minyak goreng kita harus memisahannya dari buah kelapa atau biji jagung (Syukri, 1999).
Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia. Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan secara kimia, satu komponen atau lebih akan direaksikan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan (Syukri, 1999).
Cara atau teknik pemisahan campuran bergantung pada jenis, wujud, dan sifat komponen yang terkandung di dalamnya. Jika komponen berwujud padat dan cair, misalnya pasir dan air dapat dipisahkan dengan saringan (Syukri, 1999).
Hasil sintesis suatu senyawa dapat diharapkan mempunyai kemurnian semaksimal mungkin. Dengan malakukan serangkaian percobaan yang akurat kemurniaan ini dapat dicapai. Pemisahan suatu zat dimaksudkan untuk memurnikan zat tersebut. Dikenal dua golongan pemisahan,  yaitu :
a.    Pemisahan zat padat dari zat cair.
b.    Pemisahan zat padat dari zat padat.
Apabila zat padat larut dalam air, maka dapt dilakukan pemisahan dengan cara :
a.    Penguapan sampai kering
Dimana campuran yang yang mengandung partikel zat padat dipanaskan sehingga cairan pada campuran tersebut menguap seluruhnya, sehingga partikel-partikel zat yang tadinya larut dapat dipisahkan.
b.    Distilasi
Dasar pemisahan dengan cara distilasi adalah perbedaan titik didih dua atau lebih zat yang bercampur. Jika campuran dipanaskan, maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap terlebih dulu. Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat menguapkan dan mengembunkan komponen demi komponen secara bertahap.
c.    Kristalisasi
Digunakan untuk memisahkan padatan atau cairan dengan memakai pelarut sedikit mungkin untuk mencegah supaya kristal yang timbul tidak terlarut. Apabila larutan zat yang dikristalkan berwarna, sedangkan zat yang diinginkan tidak berwarna, maka warna tersebut dapat dihilangkan dengan cara menambahkan karbon aktif secukupnya. Teknik pemisahan ini didasarkan atas pebedaan titik beku komponen. Perbedaan ini harus cukup besar dan sebaiknya komponen yang dipisahkan berwujud padat dan lainnya cair pada suhu kamar.
Pemisahan zat padat dari zat padat dapat dilakukan dengan cara:
a.    Melarutkan dan menyaring
Mula-mula zat yang akan dipisahkan dilarutkan dengan suatu pelarut, sehingga salah satu zat larut dalam pelarut dan yang lain tidak larut dalam pelarut. Setelah itu dilakukan penyaringan untuk zat-zat yang tidak dapat larut dalam pelarut.
b.    Kristalisasi bertingkat
Menggunakan prinsip perbedaan kelarutan zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat pengotornya. Rekristalisasi dapat dilakukan dengan cara melarutkan cuplikan ke dalam pelarut yang sesuai.


c.    Sublimasi
Digunakan untuk memurnikan senyawa-senyawa organik yang berbentuk padatan. Prinsip dari metode sublimasi ini adalah adanya kemampuan berbeda dari zat yang bercampur untuk dapat menyublim.
Pemurnian zat dapat dilakukan dengan cara rekristalisasi, distilasi, ekstraksi pelarut, dan penukaran ion (dengan menggunakan resin penukar ion) (Syukri, 1999).
Dasar pemisahan dengan destilasi adalah perbedaan titik didih dua cairan atau lebih.  Jika campuran dipanaskan, maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap terlebih dahulu.  Bila campuran mengandung lebih dari dua, maka penguapan dan pengembunan dilakukan bertahap sesuai dengan jumlah komponen itu, dimulai dari titik didih yang paling rendah.  Tetapi, pemisahan campuran ini sulit dan hasil yang didapat sedikit tercampur komponen lain yang titik didihnya berdekatan (Syukri, 1999).
Lain halnya dengan cara destilasi, teknik pemisahan dengan rekristalisasi berdasarkan perbedaan titik beku komponennya.  Perbedaan itu harus cukup besar dan komponen yang dipisahkan berwujud padat dan yang lainnya berwujud cair pada suhu kamar (Syukri, 1999).
Pemisahan campuran dengan cara ekstraksi didasarkan atas perbedaan kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda.  Kromatografi adalah teknik pemisahan dalam berbagai wujud, baik padat, cair atau gas. Cara ini dipakai jika campuran tidak dapat dipisahkan dengan cara yang lain. Dasar kromatografi adalah perbedaan daya serap satu zat dengan zat lain.  Jika komponen campuran dialirkan dengan suatu pelarut melalui padatan tertentu, maka komponen campuran tersebut akan bergerak dengan kecepatan berbeda.  Hal ini dikarenakan daya serap padatan itu terhadap komponen tidak sama (Syukri, 1999).
Jika suatu larutan mengandung sejumlah besar ion, satu kelompok ion dapat dipisahkan dengan yang lainnya dengan mengendapkan suatu campuran garam-garam yang serupa dan sedikit dapat larut. Setelah campuran endapan ini diperoleh, seringkali perlu untuk melarutkan satu atau lebih untuk menetapkan ion-ion mana yang ada (Keenan, 1992).
Endapan dapat dipisahkan dari larutan dengan menyaring.  Campuran yang mengandung endapan secara hati-hati dituang ke corong dengan kertas saring.  Gelas kimia dibawahnya akan menampung filtrat yang melalui kertas saring.  Sisa-sisa endapan terakhir dibilas dengan air suling lalu dituang untuk disaring (Brady, 1999).

III.   ALAT DAN BAHAN
  1. Alat
     Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah neraca analitik, gelas beker ukuran 50 dan 400 mL, pengaduk gelas, corong, hot plate.

  1. Bahan
     Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Kristal natrium sulfit (Na2SO3), kristal kalium klorida (KCl), akuades, kertas saring.

IV.    PROSEDUR KERJA
1)      Sebanyak 2,52 gram Na2SO3 dan 2,98 gram KCl ditimbang dengan menggunakan gelas arloji dan neraca analitik.
2)      Kedua macam kristal tersebut dipindahkan ke dalam gelas beker 50 mL.
3)      Ditambahkan 50 mL akuades, diaduk hingga seluruh reaktan larut sempurna.
4)      Larutan dipanaskan di atas hot plate sampai volumenya tinggal setengah dari volume larutan mula-mula, kemudian larutan didinginkan.
5)      Dimasukkan gelas beker  berisi larutan tersebut ke dalam gelas beker yang berisi air es ketika larutan mencapai suhu kamar.
6)      Larutan didinginkan dalam penangas es hingga diperoleh endapan.
7)      Endapan dipisahkan dari larutan dan disaring, digunakan dengan corong dan kertas saring.
8)      Filtrat yang diperoleh dipanaskan hingga volume tinggal separuh dan didinginkan dalam air es hingga diperoleh endapan kristal.
9)      Kristal yang diperoleh dari langkah (7) dan langkah (8) digabungkan.
10)  Kristal yang diperoleh dalam 15 mL akuades dilarutkan kemudian diuapkan.
11)  Didinginkan larutan dalam air es hingga diperoleh endapan kristal.
12)  Ditimbang kertas saring kosong.
13)  Dipisahkan endapan dari pelarutnya dengan menggunakan corong dan kertas saring yang telah ditimbang sebelumnya, dikeringkan dalam oven.
14)  Setelah kering, ditimbang berat kristal yang diperoleh.

V.       HASIL DAN PEMBAHASAN
       A.        Hasil dan Perhitungan
                   1. Hasil
No.
Langkah Percobaan
Hasil Percobaan
1.
Sebanyak 2,52 gram Na2SO3 dan 2,98 gram KCl ditimbang, memasukkan ke gelas beker ditambahkan 50 ml aquades.

2.
Dipanaskan campuran larutan diatas hingga 1/2nya, dinginkan dalam penangas es dan terdapat endapan kemudian disaring.

3.
Diuapkan larutan dan mendinginkan dalam penangas es, kemudian saring endapan
Endapan berwarna putih
4.
Ditimbang kertas saring kosong
Berat kertas saring kosong 0,56 gram
5.
Penyaringan dilakukan

6.
Dimasukkan kertas saring ke dalam oven

7.
Setelah dioven, kertas saring + endapan ditimbang
Berat kertas saring + endapan adalah 2,04 gram
Berat endapan adalah 1,48 gram
                   2. Perhitungan
      Diketahui         : Massa Na2SO3                         = 2,52 gr
                              Mr Na2SO3                              = 126 gr/mol
                                Massa KCl                               = 2,98 gr
                                Mr KCl                                    = 74,5 gr/mol
                                Mr K2SO3                                = 158 gr/mol
                                Massa K2SO3                          = 1,48 gr
        Ditanyakan    :   % Rendemen = ... ?
      Penyelesaian:
     
     
      Reaksi yang terjadi:
                     Na2SO3 + 2 KCl                   K2SO3 + 2 NaCl
      Mula-mula       0,02         0,04 
Reaksi             0,02         0,04                      0,02         0,02
      Sisa                   -               -                       0,02         0,02 

      B.              Pembahasan
Dalam percobaan ini kita mencoba untuk melakukan sintesis sederhana suatu senyawa kimia dalam hal ini kalium sulfit, yang disintesis melalui reaksi antara kristal natrium sulfit dan kalium klorida.  Beberapa teknik pemisahan yang dapat dilakukan yaitu penyaringan, penguapan, destilasi, ekstraksi, kristalisasi,  dan kromatografi.  Kemudian dalam percobaan ini dipilih perlakuan pemisahan dan pemurnian melalu metode kristalisasi.
Pada percobaan pembuatan K2SO3, digunakan dengan cara rekristalisasi bertingkat yang berarti menggunakan prinsip perbedaan kelarutan zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat pengotornya. Rekristalisasi dapat dilakukan dengan cara melarutkan cuplikan ke dalam pelarut yang sesuai. Percobaan kali ini merekristalisasi natrium sulfit (Na2SO3 ) dan kalium klorida ( KCl ) menggunakan akuades sebagai pelarutnya dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
   Na2SO3 + 2 KCl                   K2SO3 + 2 NaCl
Reaksi di atas merupakan reaksi antara garam-garam yang juga menghasilkan garam. Untuk semua fase, baik pereaksi maupun produk adalah larutan.  Hal ini dikarenakan garam pereaksi dan produk terlarut dalam air.
2-
3
Pada pembuatan kalium sulfit dari natrium sulfit dengan kalium klorida, garam yang terjadi direkristalisasi dengan air. Proses reklistalisasi ini dilaksanakan sehingga hanya terdapat ion 2K+ dan ion SO   saja yang tinggal didalam larutan atau tidak ditemukan lagi ion Na- dan Cl-.
Untuk pembuatan endapan K2SO3, larutan dipanaskan. Tujuannya adalah untuk mempercepat rekasi dan H­2O yang menguap akan membuat larutan menjadi lebih pekat atau memiliki konsentrasi yang lebih besar dari konsentrasi sebelumnya.Endapan yang diperoleh pada pemurnian tersebut adalah endapan K2SO3 yang berupa kristal padat dengan larutan NaCl.
Endapan K2SO3 terjadi setelah larutan Na2SO3 dan KCl dipanaskan atau diuapkan dengan menggunakan  hot plate sehingga larutan tinggal separuh. Kemudian larutan tersebut didinginkan dalam penangas es sehingga larutan dingin dan terbentuk endapan, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring tetapi terlebih dahulu kertas saringnya ditimbang.  Setelah endapan yang terbentuk tersaring, kertas saring yang terdapat endapannya dimasukkan ke dalam oven untuk memperoleh K2SO3 murni.hal ini dilakukan agar yang endapan yang didapat berupa Kristal.
Dalam hal pemisahan zat atau pembuatan zat dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah kristalisasi, yaitu pemisahan suatu campuran zat padat dari zat cair.  Kemudian untuk memurnikannya dapat dilakukan dengan cara rekristalisasi. Tujuan dari rekristalisasi adalah untuk memisahkan zat padat dari larutannya dengan  jalan menguapkan pelarutnya agar diperoleh larutan yang lebih murni.
Larutan dipanaskan atau diuapkan kemudian didinginkan dimaksudkan untuk mendapatkan endapan.  Jika tidak terbentuk endapan berarti larutan tersebut belum jenuh.  Oleh karena itu, sisa filtrat harus dipanaskan dan didinginkan kembali.  Tujuan pemanasan dan pendinginan berulang-ulang pada percobaan  ini adalah untuk memperoleh kristal atau endapan yang lebih banyak.
Dari percobaan didapatkan berat endapan  hasil rekristalisasi yang sudah dikeringkan dalam  oven adalah sebesar 1,48 gram. Berat endapan diperoleh dari berat kertas saring+endapan dikurangi dengan berat kertas saring kosong.  Secara teoritis, endapan yang dihasilkan adalah 3,16 gram. Hal ini menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara berat endapan secara teoritis dengan berat endapan yang dihasilkan.
Untuk mengetahui hasil rendemennya dapat dilakukan dengan menghitung berat endapan yang diperoleh dibagi dengan berat endapan secara teoritis dikali dengan 100%, dan didapat hasil rendemennya adalah 46,84 %. Hal ini menunjukkan bahwa endapan tersebut tidak murni dalam endapan tersebut masih ada pengotor maupun pelarutnya.

VI.    KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil percobaan ini adalah :
  1. Pembuatan K2SO3 dapat dilakukan dengan cara kristalisasi dengan melarutkan Na2SO3 dan KCl, kemudian menguapkannya dan mendinginkannya sampai terbentuk kristal atau endapan.
  2. Pemurnian K2SO3 dilakukan dengan cara rekristalisasi endapan hasil kristalisasi sebelumnya dengan pelarut air, yang hasil endapannya disaring kemudian dikeringkan dalam oven.
  3. Beret teoritis endapan melalui perhitungan adalah 3,16 gram sedangkan berta endapan yang diperoleh adalah 1,48 gram.
  4. Rendemen yang dihasilkan pada percobaan ini adalah 48,84 %. Dari persen rendemen tersebut dapat kita ketahui bahwa endapan tersebut tidak murni, dalam endapan tersebut masih ada pengotornya.
DAFTAR PUSTAKA
Brady, James E.1999. Kimia Universitas Asas Dan Struktur. Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Keenan, C. W. 1992. Kimia Untuk Universitas. Erlangga: Jakarta.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 2. ITB, Bandung.